Panggilan dan Bayang-bayang dari sebuah kata Haji

 

📜 Bait-Bait Renungan

Ketika lambaian Kakbah mulai menjauh, Dan gema talbiyah berganti riuh. Engkau pulang membawa nama baru, Dipanggil Haji, disapa Hajjah, di setiap penjuru.

Namun... apakah gelar itu jubah kemuliaan? Atau justru cermin yang menuntut kesucian? Sebab mabrur tak terletak pada sebutan manusia, Ia bersembunyi rapat, dalam beningnya rasa.

 

Ketika kaki kembali menapak di tanah air dan pelukan hangat sanak saudara menyambut di ambang kepulangan, sebuah kata baru perlahan menyelinap dan bersanding di depan nama kita: Haji atau Hajjah. Panggilan ini menggema di setiap sudut, bukan sekadar sebagai simbol penghormatan sosial, melainkan sebagai penanda dari sebuah perjalanan spiritual yang dahsyat melintasi batas ruang dan waktu. Namun, di balik untaian huruf yang kini melekat erat tersebut, tersimpan sebuah rahasia yang menggetarkan jiwa, membawa pulang sebuah jubah tak kasat mata yang menuntut pertanggungjawaban besar di hadapan manusia dan Sang Pencipta.

Di sinilah ujian sunyi itu bermula, ketika gema talbiyah di tanah suci mulai berganti dengan riuh pujian di tanah kelahiran. Gelar baru ini kerap kali menjelma menjadi dilema yang menguji kebersihan hati, berdiri di batas yang sangat tipis antara menjadi jubah kemuliaan atau justru cermin yang menelanjangi ego kita sendiri. Sungguh manusiawi jika batin merasa melambung saat disapa dengan sebutan mulia tersebut, namun kebersihan hati justru diuji saat kita mampu bertanya pada diri sendiri dalam kesunyian: apakah hati ini merindukan panggilan itu demi sebuah pengakuan dunia, ataukah kita justru gemetar karena merasa kualitas ibadah belum sebanding dengan gelar yang disandang?

Hakikat dari sebuah perjalanan yang mabrur tidak pernah terletak pada seberapa lantang manusia memanggil gelar kita, melainkan pada beningnya rasa dan perubahan akhlak yang memancar setelahnya. Para ulama mengajarkan bahwa tanda kemabruran yang sejati adalah runtuhnya keangkuhan dan terbitnya kesalehan sosial, di mana pribadi yang pulang menjadi lebih dermawan, lebih lembut tutur katanya, dan lebih luas samudera sabarnya. Kebersihan hati adalah inti dari kemabruran itu sendiri; ia adalah proses membasuh noda kesombongan spiritual yang sering kali jauh lebih berat untuk dilakukan daripada menembus lautan manusia saat melakukan tawaf di sekeliling Kakbah.

Oleh karena itu, mari kita jadikan panggilan Haji atau Hajjah ini sebagai pengingat yang abadi, bukan sebagai alat pembangga diri yang mengotori kesucian niat. Gelar ini semestinya menjadi alarm yang terus berdering di dalam dada, mengingatkan kembali pada momentum magis saat kita berdiri sama rendah dan menangis sama keras di Padang Arafah yang gersang. Di atas tanah suci itu, kita telah melepaskan segala atribut duniawi dan bersimpuh tanpa membawa apa-apa selain selembar kain putih serta setumpuk dosa, sebuah kesadaran fitrah yang harus terus kita jaga agar hati tetap bersih, tunduk, dan berserah diri sepanjang sisa usia.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jejak Sunan Kalijogo di desa Jatirejo Suruh kabupaten Semarang

Koneksi Antar Materi Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya