AIB SAUDARAMU ADALAH AIBMU
Refleksi Aib
Keluarga
Manusia memang bukan makhluk sempurna. Disana terciptalah aib, salah, dan alpha. Manusia dikumpulkan dalam sebuah keluarga oleh ikatan suci yang namanya sedarah sebapak dan seibu. Dan tiap kita punya aib. Meskipun kini kita sudah berkeluarga masing-masing. Tetapi saudara kandung tetap saudara kandung. Biarkan aib saudara kandung ada diantara saudara kandung saja. Jangan sampai menyebar ke ranah yang lain. Ada rahasia jabatan sebagai saudara kandung yang tak perlu diceritakan kepada suami atau istri yang akan ke ranah ipar, mertua dan Masyarakat. Biarkan suami, istri, ipar, mertua dan masyarakat tak pernah tahu aib saudaramu. Disana ada nama bapakmu dan ibumu yang akan tersangkut.
Sungguh sebuah pertunjukan yang
jenaka ketika kita begitu bersemangat menjadi penyiar bagi cacat cela saudara
sendiri. Kita seolah lupa bahwa kita adalah buah dari dahan yang sama, yang
tumbuh dari akar yang satu. Saat kau menudingkan telunjuk pada borok saudaramu
di hadapan dunia, kau sebenarnya sedang menelanjangi dirimu sendiri. Luka yang
kau pamerkan itu bukanlah sekadar debu di bahu orang lain, melainkan noda yang
merembes masuk ke dalam pori-pori kulitmu sendiri, karena darah yang mengalir
di nadinya adalah darah yang juga menghidupi jantungmu.
Betapa hebatnya kita dalam
bersandiwara, merasa menjadi pahlawan moral saat melempar lumpur ke wajah
saudara kandung. Namun, lihatlah ke arah belakang; lumpur itu tidak berhenti di
sana. Ia memercik hebat, mengotori uban ayah dan menyumbat napas ibu yang
selama ini mati-matian menjaga kehormatan rumah. Membuka aib saudara adalah
cara paling estetis untuk meruntuhkan atap tempatmu berteduh; kau mungkin
merasa menang karena berhasil mempermalukannya, padahal kau hanya sedang
mempertontonkan betapa rapuhnya pondasi pendidikan yang kau terima di bawah
atap yang sama.
Pada akhirnya, kita hanyalah
pelukis yang malang jika terus-menerus menggoreskan warna hitam pada kanvas
kehidupan saudara sendiri. Tidakkah kau sadar bahwa keluarga adalah satu
bingkai foto yang tak terpisahkan? Sekali kau menyiramkan tinta pada satu wajah
di dalamnya, maka seluruh potret itu akan kehilangan maknanya di mata orang
asing. Menjual aib saudara di pasar gunjingan hanyalah sebuah transaksi rugi,
di mana kau menukar harga diri orang tuamu demi tepuk tangan murahan dari
mereka yang sebenarnya sedang menertawakan silsilahmu.
Cukup sampaikan keindahan dan
kerukunan saudaramu kepada dunia luar. Biarkan dunia tahu bahwa kita bersaudara
Adalah Bahagia dan sangat bahagia. Tak perlu mereka tahu bagaimana kita
berdarah-darah setiap langkah, tak perlu mereka tahu bahwa tangis ada dalam
setiap cobaan, tak perlu mereka tahu bahawa keringat tak pernah kering, tak
perlu mereka tahu jika mata ini jarang terpejam. Semuanya ikhtiar untuk menciptakan keluarga
yang Sakinah maeadah warohmah. Jika ditanya, tak ada yang mau orang hidup penuh
dengan cobaan dan ujian. Tapi disanalah
Allah hadir untuk menguatkan keimanan dan ketaqwaan kita. Jangan sampai tatkala
menguji keimanan dan ketaqwaan saudara kita, malah kita hadir dengan praduga
yang bermuara fitnah di Masyarakat. Mari senantiasa menjadi penentram saudara
kita. Andaikan tak mampu membantu menyelesaikannya. Cukuplah dengan diam bersalut
doa indahmu.
Mari saling menjaga aib saudara. Aib saudaramu adalah aibmu juga. Jangan sampai menjadi konsumsi publik. Cukup kita saja yang tahu dan tanpa
perlu diperbincangkan. Karena sayapun tak mau aibku jadi perbincangan kalian.
Meski kalian tahu dan kalian adalah saudara sedarahku. Biarkan aib ini menjadi
rahasia kita dan Allah. dan semoga Allah senantiasa menutup aib-aib kita semua.
Aamin
Dan akhirnya jangan tanya kenapa
dan siapa? Cukup sebagai muhasabah diri. Semoga kita semua senantiasa rukun dan
selalau dalam berkah lindungan Allah.
Komentar
Posting Komentar